Setetes tinta blogspot resmi di pindah ke server baru.
Alamatnya menjadi http://sugi.web.id/blog/
Mari kita merenung, menulis dan memuliakan Sang Pencipta.
Sunday, August 21, 2011
Saturday, May 21, 2011
Diakonia
Diakonia berasal dari bahasa Yunani diakonein, yang berarti melayani. Kata lain yang berhubungan erat dengan diakonia yaitu diakonos. Diakonia berarti pelayanan, diakoniem berarti melayani dan diakonos berarti pelayan. Dari istilah ini munculah istilah diaken yang dipakai gereja sebagai sebutan kepada petugas yang melayani jemaat (Bahtera Mar-Apr 2010 hal.3).
Dalam kehidupan bergereja, peran diakonia menduduki posisi yang penting. Tapi tidak semua pelayanan dalam gereja termasuk dalam diakoni. Pekerjaan diakonia selalu dikaitkan dengan peran gereja dalam membantu jemaat atau orang lain yang berkekurangan secara ekonomi.
Bentuk bantuan yang diberikan kepada jemaat tidak mampu beragam macamnya. Mulai dari bantuan uang untuk kehidupan sehari-hari, uang sekolah anak-anak, bahan makanan pokok, angpau tahun baru, hingga biaya pengobatan karena sakit/ kecelakaan/ operasi. Saat ini jemaat di Cianjur yang dibantu secara rutin ada 3 orang jemaat.
Sumber dana dalam badan diakoni berasal dari persembahan khusus para jemaat. Jika tidak ada, tentunya pengurus setempat yang mengaturnya agar badan diakoni tetap mempunyai dana tetap. Namun hingga saat ini jumlah persembahan khusus ke badan diakoni sangat mencukupi dengan rata-rata persembahan Rp.1 juta hingga Rp. 1,5 juta. Hal ini bisa menggambarkan bahwa jemaat pada umumnya menganggap diakoni sebagai bagian yang penting dalam pelayanan di gereja.
Pengurus diakoni Cianjur saat ini adalah :
Ketua : Sie Ie Ing
Bendahara : Linda
Anggota : Lo Tek Siong, Dkns. Oey Fei Lie, Dkn. Handoko.
Dalam kehidupan bergereja, peran diakonia menduduki posisi yang penting. Tapi tidak semua pelayanan dalam gereja termasuk dalam diakoni. Pekerjaan diakonia selalu dikaitkan dengan peran gereja dalam membantu jemaat atau orang lain yang berkekurangan secara ekonomi.
Bentuk bantuan yang diberikan kepada jemaat tidak mampu beragam macamnya. Mulai dari bantuan uang untuk kehidupan sehari-hari, uang sekolah anak-anak, bahan makanan pokok, angpau tahun baru, hingga biaya pengobatan karena sakit/ kecelakaan/ operasi. Saat ini jemaat di Cianjur yang dibantu secara rutin ada 3 orang jemaat.
Sumber dana dalam badan diakoni berasal dari persembahan khusus para jemaat. Jika tidak ada, tentunya pengurus setempat yang mengaturnya agar badan diakoni tetap mempunyai dana tetap. Namun hingga saat ini jumlah persembahan khusus ke badan diakoni sangat mencukupi dengan rata-rata persembahan Rp.1 juta hingga Rp. 1,5 juta. Hal ini bisa menggambarkan bahwa jemaat pada umumnya menganggap diakoni sebagai bagian yang penting dalam pelayanan di gereja.
Pengurus diakoni Cianjur saat ini adalah :
Ketua : Sie Ie Ing
Bendahara : Linda
Anggota : Lo Tek Siong, Dkns. Oey Fei Lie, Dkn. Handoko.
Thursday, April 28, 2011
Surat Wasiat Charlie Chaplin pada putrinya
Geraldine putriku, aku jauh darimu, namun sekejap pun wajahmu tidak pernah jauh dari benakku. Tapi kau dimana? Di Paris di atas panggung teater megah... aku tahu ini bahwa dalam keheningan malam, aku mendengar langkahmu. Aku mendengar peranmu di teater itu, kau tampil sebagai putri penguasa yang ditawan oleh bangsa Tartar.
Geraldine, jadilah kau pemeran bintang namun jika kau mendengar pujian para pemirsa dan kau mencium harum memabukkan bunga-bunga yang dikirim untukmu, waspadailah.
Duduklah dan bacalah surat ini... aku adalah Ayahmu. Kini adalah giliranmu untuk tampil dan menggapai puncak kebanggan. Kini adalah giliranmu untuk melayang ke angkasa bersama riuh suara tepuk tangan para pemirsa.
Terbanglah ke angkasa namun sekali-kali pijakkan kakimu di bumi dan saksikanlah kehidupan masyarakat. Kehidupan yang mereka tampilkan dengan perut kosong kelaparan di saat kedua kaki mereka bergemetar karena kemiskinan. Dulu aku juga salah satu dari mereka.
Geraldine putriku, kau tidak mengenalku dengan baik. Pada malam-malam saat jauh darimu aku menceritakan banyak kisah kepadamu namun aku tidak pernah mengungkapkan penderitaan dan kesedihanku.
Ini juga kisah yang menarik. Cerita tentang seorang badut lapar yang menyanyi dan menerima sedekah di tempat terburuk di London.
Ini adalah ceritaku. Aku telah merasakan kelaparan. Aku merasakan pedihnya kemiskinan. Yang lebih parah lagi, aku telah merasakan penderitaan dan kehinaan badut gelandangan itu yang menyimpan gelombang lautan kebanggaan dalam hatinya.
Aku juga merasakan bahwa urang recehan sedekah pejalan kaki itu sama sekali tidak meruntuhkan harga dirinya. Meski demikian aku tetap hidup.
Geraldine putriku, dunia yang kau hidup di dalamnya adalah dunia seni dan musik. Tengah malam saat kau keluar dari gedung teater itu, lupakanlah para pemuja kaya itu.
Tapi kepada sopir taksi yang mengantarmu pulang ke rumah, tanyakanlah keadaan istrinya. Jika dia tidak punya uang untuk membeli pakaian untuk anaknya, sisipkanlah uang di sakunya secara sembunyi-sembunyi.
Geraldine putriku, sesekali naiklah bus dan kereta bawah tanah. Perhatikanlah masyarakat. Kenalilah para janda dan anak-anak yatim dan paling tidak untuk satu hari saja katakan: "Aku juga bagian dari mereka".
Pada hakikatnya kau benar-benar seperti mereka. Seni sebelum memberikan dua sayap kepada manusia untuk bisa terbang, ia akan mematahkan kedua kakinya terlebih dahulu.
Ketika kau merasa sudah berada di atas angin, saat itu juga tinggalkanlah teater dan pergilah ke pinggiran Paris dengan taksimu.
Aku mengenal dengan baik wilayah itu. Di situ kau akan menyaksikan para seniman sepertimu. Mereka berakting lebih indah dan lebih menghayati daripada kamu.
Bedanya di situ tidak akan kau temukan gemerlap lampu seperti di teatermu. Ketahuliah bahwa selalu ada orang yang berakting lebih baik darimu.
Geraldine putriku, aku mengirimkan cek ini untukmu, belanjakanlah sesuka hatimu. Namun ketika kau ingin membelanjakan dua franc, berpikirlah bahwa franc ketiga bukan milikmu.
Itu adalah milik seorang miskin yang memerlukannya. Jika kau menghendakinya, kau dapat menemukan orang miskin itu dengan sangat mudah. Jika aku banyak berbicara kepadamu tentang uang, itu karena aku mengetahui kekuatan ‘anak setan' ini dalam menipu.....
Geraldine putriku, masih ada banyak hal yang akan aku ceritakan kepadamu, namun aku akan menceritakannya di kesempatan lain.
Dan aku akhiri suratku ini dengan,
"Jadilah manusia, suci dan satu hati, karena lapar, menerima sedekah, dan mati dalam kemiskinan, seribu kali lebih mudah dari pada kehinaan dan tidak memiliki perasaan".
sumber : http://www.apakabardunia.com/2011/04/nasehat-paling-berharga-dari-mendiang.html
Geraldine, jadilah kau pemeran bintang namun jika kau mendengar pujian para pemirsa dan kau mencium harum memabukkan bunga-bunga yang dikirim untukmu, waspadailah.
Duduklah dan bacalah surat ini... aku adalah Ayahmu. Kini adalah giliranmu untuk tampil dan menggapai puncak kebanggan. Kini adalah giliranmu untuk melayang ke angkasa bersama riuh suara tepuk tangan para pemirsa.
Terbanglah ke angkasa namun sekali-kali pijakkan kakimu di bumi dan saksikanlah kehidupan masyarakat. Kehidupan yang mereka tampilkan dengan perut kosong kelaparan di saat kedua kaki mereka bergemetar karena kemiskinan. Dulu aku juga salah satu dari mereka.
Geraldine putriku, kau tidak mengenalku dengan baik. Pada malam-malam saat jauh darimu aku menceritakan banyak kisah kepadamu namun aku tidak pernah mengungkapkan penderitaan dan kesedihanku.
Ini juga kisah yang menarik. Cerita tentang seorang badut lapar yang menyanyi dan menerima sedekah di tempat terburuk di London.
Ini adalah ceritaku. Aku telah merasakan kelaparan. Aku merasakan pedihnya kemiskinan. Yang lebih parah lagi, aku telah merasakan penderitaan dan kehinaan badut gelandangan itu yang menyimpan gelombang lautan kebanggaan dalam hatinya.
Aku juga merasakan bahwa urang recehan sedekah pejalan kaki itu sama sekali tidak meruntuhkan harga dirinya. Meski demikian aku tetap hidup.
Geraldine putriku, dunia yang kau hidup di dalamnya adalah dunia seni dan musik. Tengah malam saat kau keluar dari gedung teater itu, lupakanlah para pemuja kaya itu.
Tapi kepada sopir taksi yang mengantarmu pulang ke rumah, tanyakanlah keadaan istrinya. Jika dia tidak punya uang untuk membeli pakaian untuk anaknya, sisipkanlah uang di sakunya secara sembunyi-sembunyi.
Geraldine putriku, sesekali naiklah bus dan kereta bawah tanah. Perhatikanlah masyarakat. Kenalilah para janda dan anak-anak yatim dan paling tidak untuk satu hari saja katakan: "Aku juga bagian dari mereka".
Pada hakikatnya kau benar-benar seperti mereka. Seni sebelum memberikan dua sayap kepada manusia untuk bisa terbang, ia akan mematahkan kedua kakinya terlebih dahulu.
Ketika kau merasa sudah berada di atas angin, saat itu juga tinggalkanlah teater dan pergilah ke pinggiran Paris dengan taksimu.
Aku mengenal dengan baik wilayah itu. Di situ kau akan menyaksikan para seniman sepertimu. Mereka berakting lebih indah dan lebih menghayati daripada kamu.
Bedanya di situ tidak akan kau temukan gemerlap lampu seperti di teatermu. Ketahuliah bahwa selalu ada orang yang berakting lebih baik darimu.
Geraldine putriku, aku mengirimkan cek ini untukmu, belanjakanlah sesuka hatimu. Namun ketika kau ingin membelanjakan dua franc, berpikirlah bahwa franc ketiga bukan milikmu.
Itu adalah milik seorang miskin yang memerlukannya. Jika kau menghendakinya, kau dapat menemukan orang miskin itu dengan sangat mudah. Jika aku banyak berbicara kepadamu tentang uang, itu karena aku mengetahui kekuatan ‘anak setan' ini dalam menipu.....
Geraldine putriku, masih ada banyak hal yang akan aku ceritakan kepadamu, namun aku akan menceritakannya di kesempatan lain.
Dan aku akhiri suratku ini dengan,
"Jadilah manusia, suci dan satu hati, karena lapar, menerima sedekah, dan mati dalam kemiskinan, seribu kali lebih mudah dari pada kehinaan dan tidak memiliki perasaan".
sumber : http://www.apakabardunia.com/2011/04/nasehat-paling-berharga-dari-mendiang.html
Tuesday, March 15, 2011
Keluar dari dalam sangkar...
Melakukan kebiasaan baru itu sungguh sulit. Apalagi buat orang seperti saya. Orang yang terbiasa melakukan hal-hal rutin yang sama setiap hari. Buat beberapa orang, saya dipandang sebagai orang yang membosankan.
Belum lagi rasa malas yang sering menyerang. Keinginan untuk menulis pun terlupakan hingga beberapa saat. Cukup lama sebenarnya.
Tapi tidak seratus persen ditinggalkan. Aku masih menulis untuk beberapa poin penting seperti laporan kantor, proposal dan semacamnya. Walaupun berbeda tentu dengan menulis yang saya maksud disini.
Entah harus melewati peristiwa semacam apa supaya kebiasaan baru ini menjadi kebiasaan-kebiasaan dan akhirnya menjadi rutinitas juga. Peristiwa itu tentunya menjadi semacam pemicu. Trigger yang bisa membom semangat dalam jiwa hingga membara dan mampu menggerakan otak dan jari-jari ini untuk menulis.
Sepertinya terlalu berlebihan. Cukup diperlukan rasa 'kemauan' saja sebenarnya cukup untuk menggerakkannya. Ya, itulah yang saya coba sekarang ini. Entah mau menulis apa tapi yang jelas menulis.
Aku berusaha untuk keluar dari dalam sangkar yang telah memenjarakan hasrat menulisku. Sangat sulit...seperti membongkar jeruji sangkar yang terbuat dari besi.
Tapi sekuat apa pun sangkar itu, seekor burung pasti menemukan jalannya jika hendak keluar. Aku pun begitu...
Thursday, January 6, 2011
Selamat Tahun Baru 2011 - Selamat ber-Resolusi
Beberapa hari terakhir ini saya banyak melihat teman-teman membuat resolusi untuk hidup mereka. Resolusi memang sedang ramai-ramainya dibicarakan ketika tahun baru seperti ini tiba. Resolusi adalah kata lain dari komitmen yang akan dijalankan dalam kehidupan kita yang diharapkan menjadi lebih baik.
Ada yang memang menjalankan komitmen resolusinya tersebut sejak awal tahun sebelumnya ada juga yang sekedar ikut-ikutan membuat. Toh akhirnya lupa juga dan kembali pada kebiasaan lama. Namanya juga manusia. Pada titik ini kita pasti diminta untuk dimaklumi. Termasuk pada diri sendiri.
Apapun apa yang terjadi nanti, tak ada salahnya memang membuat resolusi. Tahun 2011 belum tentu sama, pasti tidak sama, dengan tahun 2010. Biarlah 2010 menjadi sejarah dan 2011 dipenuhi dengan harapan-harapan.
Lalu resolusi apa yang hendak saya buat?
Komitmen menulis. Ya itu saja satu. Komitmen ini begitu sulit dijalankan ketika dihadapkan pada kesibukan setiap harinya. Ketika mendapat waktu luang, yang dirasakan hanya badan yang capek/ pegal. Ujung-ujungnya tidak bisa menulis juga.
Komitmen ini akan sulit. Tapi saya harus berusaha keras. Apalagi saya masih mempunyai dua hutang tulisan sama gereja. Saya bersalah sama Tuhan karena belum menyelesaikannya. Ampuni saya Tuhan.
Semoga tulisan ini merupakan renungan saya untuk kembali berkomitmen menulis...
Ada yang memang menjalankan komitmen resolusinya tersebut sejak awal tahun sebelumnya ada juga yang sekedar ikut-ikutan membuat. Toh akhirnya lupa juga dan kembali pada kebiasaan lama. Namanya juga manusia. Pada titik ini kita pasti diminta untuk dimaklumi. Termasuk pada diri sendiri.
Apapun apa yang terjadi nanti, tak ada salahnya memang membuat resolusi. Tahun 2011 belum tentu sama, pasti tidak sama, dengan tahun 2010. Biarlah 2010 menjadi sejarah dan 2011 dipenuhi dengan harapan-harapan.
Lalu resolusi apa yang hendak saya buat?
Komitmen menulis. Ya itu saja satu. Komitmen ini begitu sulit dijalankan ketika dihadapkan pada kesibukan setiap harinya. Ketika mendapat waktu luang, yang dirasakan hanya badan yang capek/ pegal. Ujung-ujungnya tidak bisa menulis juga.
Komitmen ini akan sulit. Tapi saya harus berusaha keras. Apalagi saya masih mempunyai dua hutang tulisan sama gereja. Saya bersalah sama Tuhan karena belum menyelesaikannya. Ampuni saya Tuhan.
Semoga tulisan ini merupakan renungan saya untuk kembali berkomitmen menulis...
Friday, October 29, 2010
Kota Perlindungan
Kota perlindunganku adalah Allah
Kota benteng kekuatan dalam kelemahanku
Kota tempatku meminta pengampunan atas segala dosaku
Kota dimana aku akan tinggal memuji Dia
Kota benteng kekuatan dalam kelemahanku
Kota tempatku meminta pengampunan atas segala dosaku
Kota dimana aku akan tinggal memuji Dia
Sunday, March 21, 2010
Kesan Pertama
Sewaktu berjalan-jalan mem-browsing satu alamat blog, saya menemukan satu hal yang menarik. Web ini milik mbak Dos ini menarik untuk dibaca. Artikelnya berjudul "Dibalik Kereta Api". Yang membuat penasaran, ketika membaca paragraf-paragraf awal artikel tanggal 22 januari 2010 ini, membuyarkan dugaan awal saya tentang kereta api. Yang terlintas adalah kereta api alat transportasi. Ternyata bukan.
Kesan pertama kadang-kadang bisa menjebak. Katakanlah ketika kita bertemu seseorang untuk pertama kalinya. Pakaiannya mentereng, memakai jas, dasi, gaya bicaranya baik dan sopan, tapi ternyata dikemudian hari diketahui penipu. Jadi sebenarnya kita yang harus berhati-hati dalam menilai kesan pertama. Seperti kata-kata yang saya kutip dari sebuah iklan, kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah anda.
Bisa dibayangkan ketika ribuan tahun lalu, ketika Yesus pertama kalinya bekerja menyebarkan Injil, apa pandangan orang-orang pada waktu itu. Orang mempertanyakan Yesus ketika melihatnya. "Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?" (Mat 13:55). Siapakah Dia sehingga berkata sedemikian. Kemudian timbulah kekecewaan, bagaimana mungkin seorang anak tukang kayu berkata sedemikian. "Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankahsaudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia." (Mrk. 6:3).
Rupa luar seringkali menipu kita. Lihatlah Alkitab kita sekarang ini. Sebuah buku yang biasa saja. Banyak tulisan dan tidak ada gambarnya. Dari luar kelihatan tidak menarik. Padahal isinya berisi tentang anugerah keselamatan untuk manusia. Seringkali juga kita salah mengartikan tindakan Allah kepada kita hanya dari kulitnya saja. Kita menganggap kejadian yang menimpa kita adalah ketidakadilan dari Tuhan. Padahal sudah jelas dalam firman-Nya, bahwa Ia mendidik kita seperti anak-Nya dengan penuh kasih.
Maka lihatlah kasih Allah dalam hidup kita dengan lebih mendalam. Tidak hanya dari kulitnya saja. Semua hal terdapat anugerah yang begitu baik.
Kesan pertama kadang-kadang bisa menjebak. Katakanlah ketika kita bertemu seseorang untuk pertama kalinya. Pakaiannya mentereng, memakai jas, dasi, gaya bicaranya baik dan sopan, tapi ternyata dikemudian hari diketahui penipu. Jadi sebenarnya kita yang harus berhati-hati dalam menilai kesan pertama. Seperti kata-kata yang saya kutip dari sebuah iklan, kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah anda.
Bisa dibayangkan ketika ribuan tahun lalu, ketika Yesus pertama kalinya bekerja menyebarkan Injil, apa pandangan orang-orang pada waktu itu. Orang mempertanyakan Yesus ketika melihatnya. "Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?" (Mat 13:55). Siapakah Dia sehingga berkata sedemikian. Kemudian timbulah kekecewaan, bagaimana mungkin seorang anak tukang kayu berkata sedemikian. "Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankahsaudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia." (Mrk. 6:3).
Rupa luar seringkali menipu kita. Lihatlah Alkitab kita sekarang ini. Sebuah buku yang biasa saja. Banyak tulisan dan tidak ada gambarnya. Dari luar kelihatan tidak menarik. Padahal isinya berisi tentang anugerah keselamatan untuk manusia. Seringkali juga kita salah mengartikan tindakan Allah kepada kita hanya dari kulitnya saja. Kita menganggap kejadian yang menimpa kita adalah ketidakadilan dari Tuhan. Padahal sudah jelas dalam firman-Nya, bahwa Ia mendidik kita seperti anak-Nya dengan penuh kasih.
Maka lihatlah kasih Allah dalam hidup kita dengan lebih mendalam. Tidak hanya dari kulitnya saja. Semua hal terdapat anugerah yang begitu baik.
Subscribe to:
Posts (Atom)

